Kamis, 19 Juli 2012

Keep Moving



at the first, I didn’t know yet, why do we must to move from the place which we feel most comfort when around its inside. why do we must to make another adaptation with someone else when we have felt happy with the person we have now. why? I hate moving.
moving, rolling, changing, these are the words  I hate so much. Actually I hate new. I love the old one. because farewell is the sorrow moment and good bye is the words I didn’t ever want to say. but we have born with a limit time. So when the time we have left just a little, we must being realize to say goodbye.
Togetherness is the moment I love the most. I like friend and I would feel alone when my friend go away. But, would I feel sad if my friend walk away to find something better, to make theirself be more mature and why do I have to sad,if when we at the long distant we will say to each other  the romantic phrase “I miss you.” the words that reraly we say when we being together. So,let’s make a space to give a place to the longing. Let’s make our praises for them that we forgot to do it  before.
I don’t know yet how am I being reflected in their eyes.  somehow, they have given me many lessons. sometimes they did things that makes our self so mess, or creates a heartache. But, nothing but so beautiful experiences we got from them. Sometimes, things happen so painfull, annoying, and  unfair , but without overcoming these all. we would never have realized our potential. sometimes we may be able to make ourself walking on easy way, or just hide our body  in the comfort place, but we will get nothing but a flat life, dull, and boring.

Minggu, 24 Juni 2012

Because I Long for That Time


Because I long for that time (Karena aku merindukan waktu itu)

the talks we had as we looked at each other
the memories that only we knew
I guess I cant erase them



Saya tidak memiliki cetak memori yang bagus waktu saya masih kecil. Kakung, tak banyak saya ingat tentang beliau, hanya saja sorban putih yang selalu beliau kenakan, sandal bangkiak, juga cairan kuning yang sering beliau muntahkan, saya masih ingat semua itu. Kata ibu, Kakung meninggal saat saya dua tahun. Hanya sebatas itu memori tetang Kakung.
Mbah Tri, begitu ibu mengajari saya memanggil nenek. Mbak Tri hanya terbaring di kamar yang sering membuat saya takut untuk masuk ke dalamnya. Semenjak saya lahir, atau entah berapa lama sebelum itu, Mbah Tri menderita katarak, ada semacam daging putih di permukaan mata hitam beliau. Tiba saat itu, saat saya dan kedua sepupu saya secara bergantian menyuapi Mbah Tri dengan susu, pagi itu saya tidak pernah menyangka jika hari itu adalah hari terakhir saya melihat beliau.  Hanya beberapa suapan, Mbah Tri hanya terdiam, kami pikir beliau tertidur, hingga tanpa banyak pikir kami mengobrol dan bercanda di kamar itu, saat pada waktu yang sama malaikat maut datang, kami masih tetap bercanda dan tertawa. Mbah Tri meregang nyawa tanpa kami sadar untuk menuntun beliau membaca kalimat syahadat. Selang beberapa menit kami baru tersadar, Mbah Tri hanya terdiam dalam pembaringan. Tak merespon apa pun bahkan ketika kami menggongcang – gongang tubuh beliau. Dan sesaat barulah hati kami dipenuhi sesal yang sulit termaafkan oleh diri kami sendiri.
Jika mbah Tri adalah nenek dari ayah, Ibuk dalah nenek dari ibu. Ibuk adalah seorang nenek yang multifungsi, beliau adalah perias kemanten sekaligus penjahit. Masih saya ingat, tangisan saya ketika hari pertama saya masuk sekolah dasar, Ibuk belum selesai memasang kancing pada seragam putih saya, saya melihat teman – teman saya berangkat melalui jendela kaca rumah, saya semakin menangis, saya selalu berharap baju saya dijahit orang lain agar lebih cepat. Saya selalu menyangkal dengan mencari alas an bahwa baju yang saya pakai terlalu besar jika dijahit Ibuk, baru – baru ini saya menyadari, ibu tak punya cukup uang untuk menjatkan baju di tempat lain.
Saya tidak menyangka, jika hidup ini berjalan lebih cepat dari yang saya pikirkan, secara tiba – tiba saya terdampar di sebuat kota metropolitan, panas, berhemat, bertemu dengan orang baru setiap hari adalah aktivitas saya. Saya belum sempat memikirkan ini dua atau tiga tahun lalu. Semua secara otomatis dan teradaptasi dengan baik. Hanya waktu berputar semacam kaset yang terus merekam peristiwa – peristiwa.
Banyak memori yang seseorang sering lupa dalam hidup. Tapi ada long term memori, begitu Atkinson menyebut untuk sebuah memori jangka panjang. Memori jangka panjang tercipta karena penyandian/pengkodean yang sempurna. Penyandian yang sempurna tentu hasil dari atensi kita yang sempurna pada saat kejadian. Seberapa kejadian itu menyeret perhatian kita sehingga bertahan cukup lama pada memori kita.

Waktu saya SMA, terutama masa – masa mendekati ujian akhir, saya dan teman – teman saya berharap agar segera berlalulah masa SMA ini dan kami ingin segera menyandang gelar baru sebagai mahasiswa. Kemudian, setelah setahun dua tahun menjadi mahasiswa, betapa kami sesali perkataan kami yang telah membubur itu. Saya mempunyai seorang teman yang sudah bekerja, ia sering berpesan pada saya. “Nimati kuliah, masa – masa rapat, masa banyak perdebatan, masa – masa kerja parttime, mengerjakan tumpukan tugas kuliah. SEmua itu tak kau temui di meja kerja. Karena semua hal berbeda.”

Hidup mengajarkan pada kita bahwa semua yang terjadi pada diri kita atau life span development kita adalah berharga tanpa terkecuali. SEmua adalah proses hidup yang kita lalui, jika hidup itu memilih, ya proses pilihan itulah yang kita jalani. Saya belakangan menyimpulkan bahwa tidak pernah ada kenangan buruk, yang ada hanya lah pelajaran baik. Seburuk apa pun kenangan itu, pelajaran yang diajarkan kepada kita tetaplah yang baik – baik.
Terkadang saya merindukan untuk sekedar memutar ulang memori masa lalu. Meskipun bagi pemikir realities, itu tidak berguna. namun bagi saya, itu nilai tersendiri. Memompa semangat, menciptakan pelajaran baru atau bahkan mengambil kesimpulan baru untuk memperlalukan seseorang. Seseorang yang mungkin pada posisi yang menyakitkan kita akan kita benci, namun ia adalah hanya alat bagi hidup untuk mengajarkan suatu pelajaran pada kita. Tidakkah kehadirannya tetap kita rindukan.
“Sesuatu yang hilang pada diri kita akan kembali dalam bentuk lain.” saya sangat suka kutipan ini. Betapa Jalaludin Rumi, seorang penyair Timur Tengah menggambarkan dengan tepat. Kita akan mendapat ganti dari apa yang hilang dari kita. Mungkin sesorang yang hilang itu tak ada gantinya, karena dia hanya satu di dunia ini. Tapi ia hilang untuk menjelma menjadi memori baru yang sempurna pada otak kita, ingatan yang begitu indah yang tak mungkin kita lupakan meski kita telah bertemu dengan orang – orang baru. Itulah mengapa, saya tak pernah bisa melupakan siapan pun yang hadir dalam hidup saya, saya memang pelupa, terkadang saya lupa menaruh kunci,hape,kacamata, lupa membawa buku, lupa buang sampah, tapi saya tidak pernah bisa melupakan orang yang pernah saya kenal. Seperti apa pun mereka.
Merindukan sesorang itu menyakitkan, begitu paham saya dahulu. Tapi sekarang bagi saya, merindukan itu indah. Kita tidak pernah tahu apakah kita dirindukan atau bahkan apakah sesorang yang kita rindukan itu mengingat kita, tapi hanya merasakan rindu, seperti membawa kita ke alam masa lampau yang tak terjangkau secara nyata :))

 

Jumat, 22 Juni 2012

Kita Berbeda, Irene!




“Makasih ya Hil. dadaaah” Seperti biasa, Irene selalu mengucapkan kata yang sama ketika mengantarkanku pulang. Senyum sekilo gula di bibir tipisnya tak lupa ia kembangkan. Allamaak manisnya…Astagfirullah.
          Masih kupandangi Juke putih itu hingga benar – benar menghilang di tikungan pertama. Udara sore itu tak begitu dingin, tapi begitu menyegarkan di sini, di daerah di dalam dadaku, sungguh apa ini namanya.
Si Mbok tampak merengut kurang suka, diletakkannya secangkir kopi di atas meja tanpa melihatku, beliau memang tak mengeluarkan kata – kata omelan. Tapi bisa kurasakan, hal itu berarti ada yang tidak menyenangkan hatinya.

“Kamu harus tau diri Le, jatuh dari bulan itu sakit, jaga jarakmu sama gadis konglomerat itu, kamu sama dia itu sama artinya si cebol merindukan bulan,GAK PANTES.”

            Kata kata itu berkali – kali diucapkan si mbok. benar – benar halus tapi mengiris - iris telinga, lebih tajam dari silet, memang barang sekali pun si mbok gak pernah ridho jika aku, anak lelaki satu – satunya, pemimpin keluarga, dekat dengan Irene.
Irene. Gadis kristiani yang ku tau berhati emas, berlian atau bahkan permata. Kebetulan atau memang takdir Allah, rumah kami sejalur dari kampus, sehingga mau gak mau, malu gak malu, aku gak bias nolak saat dia bilang suruh nyopirin mobilnya, mesti aku tau maksudnya bukan hanya itu.
            Mata lelaki normal mana yang melihat Irene tak cantik, darah Indo-Belanda menyatu di tubuhnya membuat kulitnya sebening kaca, jarak alis dengan matanya menyala sempurna, tingginya lima senti di atasku. Kabarnya dia pernah menjadi pemenang gadis sampul entah edisi kapan, dan aku hanyalah lelaki miskin yang berpenampilan biasa yang setiap hari mendapat kesempatan duduk di kemudi mobilnya, mengantar sang bidadari kemana pun maunya. Bukan sebagai sopir karena juga kadang dia yang menyetir, bukan sebagai sopir karena Irene yang datang ke rumah menjemputku. Kalau pun dianggap sopir tak papa lah…
“Aku nggak maksud jadiin kamu sopir Hil, aku cuma butuh teman. Yang bisa buat candaan bareng, ngerjain tugas bareng. Kamu jangan salah ngertiin ya, karena hanya kamu yang bisa buat aku nyaman.” Sungguh beberapa kata itu berhasil mengobrak – abrik tatanan hatiku, mencerai berainya hingga sulit aku menatanya kembali. Aku tidak ingin terlalu ge-er, tapi memang inilah yang kurasa.
Tapi itu semua dulu, dulu sebelum ia bilang sesuatu yang membuat jantungku seolah benar - benar naik hingga tenggorokan dan ingin meloncat keluar. Masih jelas di pikiranku, saat gerimis waktu itu Irene bilang, “Hil, aku sayang kamu.” Dan sejak itu aku selalu sengaja menjaga jarak, aku takut aku bilang iya, ku harap Irene tak merasa perubahan sikapku, meski itu peluangnya kecil. Sebenarnya yang membuatku ragu bukan perbedaan meteri kami, bukan si mbok, bukan pula fisik kami, tapi keyakinan kami, aku muslim tulen, dan Irene adalah kristiani. Itu lebih dari perbedaan bumi dan bulan seperti yang dimaksudkan si mbok.

*******

Huffft....Udara Kota Blitar sore ini benar – benar tak seperti biasanya, lebih menggigit dan menusuk tulang, dingin sekali. Kulangkahkan kakiku pelan menyusuri koridor kampus menuju ruang Rohis. Melewati parkir mobil  sepintas  kulihat Juke Putih milik Irene. Dia belum pulang, sudah sesore ini, kasihan sekali. Kalau saja hari ini adalah dulu, pasti aku sedang duduk di sampingnya, membantunya menyelesaikan tugas. “Hilman....kamu belum pulang,” suara dari lorong perpustakaan menolehkan pandanganku. Irene melemparkan tatapan seperti biasa, anggun tapi jelas tak dibuat - buat, “Kamu..juga belum pulang.” Perkataanku terasa canggung. Sebenarnya hatiku ingin mengatakan, mau aku antar pulang, tapi kata – kata itu sarat di kerongkongan. “Kamu gak ingin, mengantar aku pulang?” Irene seperti membaca pikiranku. Aku seperti di tusuk pertanyaannya, “Maaf Ren, hari ini aku ada rapat rohis, kamu bisa kan pulang sendiri. Aku duluan ya, sudah ditunggu anak – anak.” Secepat mungkin kubalikkan badan. namun, “ Bukan rapat rohis Hil alasannya, tapi kamu sengaja menghindar karena takut aku bilang ingin jadi pacar kamu kan?” suara Irene lantang dan lepas, matanya berkaca, sungguh Gusti aku gak kuat melihatnya seperti itu. “Maaf Ren, aku benar – benar buru - buru.” Kupacu kakiku berlari meninggalkan Irene, aku takut dia bertindak lebih berani.
                                                        
*******

Malam ini sedetik pun mataku tak bisa terpejam, bayang - bayang Irene semakin nyata, perkataannya tak ada sepuluh jam yang lalu masih terdengar, berkali – kali aku coba sholat, tapi malah tak khusyu, mataku terasa pedas. Entah apa yang kurasakan, jatuh cinta, patah hati atau malah benci. Semuanya yang pernah terjadi antara aku dan irene teringat jelas, makan mie kuah di gank mangga, mencari materi secara sembunyi - sembunyi untuk makalah perbaikan saat hujan deras malam jum’at di perpustakan, bahkan menyapu dan mengecat pagar belakang kampus gara - gara  merusakkan buku perpustakaan tiga kali berturut - turut. Irene, aku tak mau menyakiti hatimu jika aku bilang tidak padamu, tapi semua tampak tergaris lurus, kita tak sepaham, itu yang jelas beda. Bagaimana pun aku tak mungkin pura – pura tak mengerti tentang ini, aku takut jika kita mengawali akan terbunuh diakhirnya. Tapi di sisi lain memang tak bisa ku sangkal, kebaikanmu selama kurun waktu hampir setahun ini berhasil memporak porandakan hatiku. Tentu banyak yang akan menentang jika kita bersama, ayahmu, si Mbok, dan juga apa kata anak – anak Rohis jika ketuanya berpacaran, dengan gadis kristen pula. Ahh....Ini begitu membimbangkan. Irene, seandainya aku bilang tidak pun bukan hanya kau yang tersiksa, tapi lebih besar pada batinku.

*******

Pagi ini mataku sembab, rasanya aku malas bangun, ingin tertidur dan tertidur. Tapi teriakan si mbok membuat telingaku mendengung, Telat berangkat kuliah akan mengurangi setengah ilmu kita, kata si mbok, ya aku nurut saja. Sampai di kampus tak banyak yang bisa kukerjakan, seperti firasatku, materi Filsafat Pancasila kosong. Kugunakan menyendiri di perpustakaan. Perpustakaan cat hijau itu tampak sunyi, hanya petugas yang masih bersih – bersih menyapaku mantap. Kucari bacaan penghibur hati tapi hasilnya nihil, tak ada yang mampu mengalihkan pikiranku.. Akhirnya aku hanya duduk mematung menghadap arah jendela kaca.
Sampai mata kuliah selesai hanya kuhabiskan di perpustakaan, tiba - tiba aku  muak dengan keramaian. Hatiku benar – benar tak berkompas,kalau boleh meminjam istilah ternyata benar cinta memang bukan segalanya, tapi kehilangan cinta seperti kehilangan segalanya. Aku tak boleh larut seperti ini. Semua harus dijelaskan. Aku akan bilang iya atau tidak. Meski semua akan perih. Aku harus mencari Irene. belum sempurna aku berdiri.DEG. Tanpa kucari dia yang datang.
“Hil, aku mencarimu.” Matanya tenang meski bicaranya mantap.
“Aku juga.” Jantungku mulai berantakan.
 “Apa yang ingin kau katakan?” Dia masih berdiri .
”Kau tau apa yang akan ku katakan.” Aku bingung memulainya.
“ Tidak, aku selalu tak bisa menebak hatimu. Apa?” Tantangnya. Aku menunduk semakin dalam.
“Ren, kedekatan kita akhir – akhir ini, kebaikanmu, sudah berhasil...berhasil membeli hatiku, aku ingin bilang, aku juga mencintaimu. Tapi semua tak mungkin, secara materi kita berbeda, tapi lebih dari itu, kita tak sepaham tentang kepercayaan.” Kataku memelan mengakhiri kalimat, aku tak berani menatap Irene, Berdetik detik kita terdiam. Tanpa suara, hanya riuh dari pengunjung lain yang terdengar. “Semua ini gak adil Hil, apa karena itu kamu mengorbankan perasaan kita.” Suaranya parau, nyaris tak terdengar. Aku kuatkan diriku. “Ku mohon mengertilah Ren, kau akan dapatkan terbaik, percayalah.” Aku menyabar – nyabarkan haiku yang memerih mendengar isakannya. Irene menarik nafas panjang. “Aku harap kamu benar. Maafkan aku jika telah mengganggumu.” Irene berkata sepintas lalu berlari meninggalkanku yang terpaku. Tak bisa kubendung airmataku menitik, tak peduli dikata cengeng, tapi perasaanku benar – benar hancur.

************

Kulangkahkan kaki menyusuri jalan batu dari perpustakaan menuju masjid kampus, dinginnya udara ruangan masjid semakin menyesakkan dadaku. Masih berkelebatan bayangan perempuan yang beberapa jam yang lalu menangis di hadapanku. ya Rabbi, ampuni hamba-Mu yang hina ini.
“Kang Hilman kok telat, dari mana?” Yanto, adik angkatanku menjabat tanganku. Semoga tak terbaca kesayuanku olehnya.
“Dari perpus To, sudah lama mulai kajiannya?” Aku segera duduk di sampingnya.
“Barusan Kang, sekitar sepuluh menit yang lalu.”
Ustad Khudaibi seperti berhasil menyihir ruangan ini, hingga semua tampak diam mendengarkan.
“Sungguh telah jelas digariskan, jika kamu tak mampu. Jangan pernah merasa mampu, jangan merasa imanmu sudah benar – benar kuat dan tidak akan bengkok, sungguh dalam sebuah bahtera rumah tangga itu tidak hanya cinta, tapi persamaan – persamaan diantara keduanya. Apa salah satu persamaan itu? yaitu cinta kepada Allah. Sungguh itulah yang kan abadi. Kalau ingin mempunyai cinta yang abadi,cintai lah sesuatu yang abadi.”
Jledekk...Splasss.....Ada semacam tiupan kencang pada hatikuku. Aku seperti telah mengadukan sesuatu dan ustad Khudaibi menjawabnya. Dan aku yakin, ini adalah salah satu bentuk penguatan Allah, Ampuni aku ya Allah. Karena aku merasa kuat padahal aku tau imanku sangat lemah. Ampuni aku telah mencoba bermain dengan sesuatu yang kau larang.
Terima kasih ya Allah karena Engkau telah menjaga hatiku. Kini tak kuragukan lagi keyakinanku. Karena rezeki,umur, dan jodohku adalah urusanmu. Maafkan aku Irene, jika kita jodoh pasti akan ada cara yang lebih indah. Namun saat ini, laa kum dinukum waliyadien.Untukku agamaku dan untukmu agamamu.
“Kini aku tau kemana harus pergi, ke arahMu ya Allah”

                                                                        Blitar, Januari 2010
                                               

Jumat, 25 Mei 2012

What the meaning of being jealous



“At any rate, I’d better be getting out of the wood, for really it’s coming on very dark. Do you think it’s going to rain?” Said Alice and began to cry.
Tweedledum spread a large umbrella over himself and his brother, and looked up into it. “No, I don’t think it is.” he said; “At least—not under here. Nohow.”

what kind of the wind that brings me such having a feeling love to read an english folklore lately. And remember girl, you almost entered the final exam. So, far better if you prepare for it. Fuhhh
Belakangan ini memang otak saya sedikit teracuni. Setiap kali tangan berniat membuka buku mata kuliah, aktivitas otak mulai memasuki gelombang theta, dan si mata jadi manja tidak mau diajak bekerja. Tapi, bukan itu yang saya ingin bahas kali ini. Melainkan kalimat pembuka di atas yang saya kutip dari karya Lewis Caroll “Through the Looking-Glass”. Loh buat apa kutipan dibahas? Bentaaaar….
Dongeng Caroll dimana tokoh utama bernama Alice terjebak atau tepatnya menjebakkan diri di sebuah wonderland. Tapi bukan itu juga yang saya bahas, LALU??? Kalimat di atas di ucapkan saat sang tokoh utama, Alice penuh rasa cemas ketika hari nyaris gelap dan ia belum menemukan jalan keluar dari hutan.
“Bagaimana pun juga,lebih baik aku sudah keluar dari hutan. Ini akan benar – benar sangat gelap. Apakah kamu pikir hujan akan turun?” Hampir menangis Alice mengatakan itu kepada dua teman barunya yang kuntet, yaitu si kembar Tweedledum dan Tweedledee. Tapia pa tanggapan mereka. Tweedledum justru mengembangkan payung besarnya dan menutupi dirinya dan saudaranya Tweedledee dengan payung kemudian mengatakan. “Aku pikir tidak. Setidaknya, tidak akan hujan di bawah sini, Nohow.”. :D
Apa yang kita pikirkan tentang si kembar Dee dan Dum. Selfish things? yes, it could be. Tapi mari berhusnudzonria. Mereka benar. Realistis dan objektif. But the hidden value we could take is. Jangan pandang satu sisi terlalu saklek. Banyak kemungkinan lebih baik jika kita mau lebih flexible. Intinya. Penyimpulan dari otak kita kadang yang menjadi racun bagi hati kita sendiri.
Sebenarnya, kalimat pembukaan di atas (Ha pembukaan…?) saya mau alirkan ke judul sebenarnya tulisan saya kali ini. What the meaning of being jealous? have you ever felt such a feeling jealous  in your life?
Kembali ke kalimat pembuka, Betapa simple pikiran Dum bahwa hari memang akan hujan tapi setidaknya tidak akan ada hujan di bawah payung. Mari kita menelisik. Seringkali kita terlalu memikir  kemungkinan terburuk, dari sebuah “penyimpulan perasaan.” Kenapa saya bilang penyimpulan perasaan. Karena kita yang seringkali menyimpul nyimpulkan sendiri apa yang kita rasa (ini terutawa kaum ibu kartini). Apa yang terjadi di depan mata, bisa dari teman, keluarga,atasan,  pacar bagi yang punya :D. Seringkali kita anggap benar apa yang kita pikirkan. Terlalu percaya pada mata. Sehingga kita sering mempersepsikan hal yang belum tentu benar adalah pasti benar, mutlak benar, dan harus benar -.-“. Kenapa bisa terjadi? kembali lagi, darimana datangnya persepsi? Dari mata turun ke hati----SALAH. Persepsi adalah interpretasi dari indrawi----BENAAAR. Dan sayangnya, alat indra tidak ada yang mampu menangkap maksud. Tidak ada yang bisa melihat kondisi. Tidak menangkap yang tersirat dibalik yang tersurut. Ambil contoh, teman saya si A suka curhatnya ke si C bukan ke saya. waaaa gak percaya dia sama saya. awas aja nanti saya juga nggak mau curhat ke dia. ckckck. Itu proses presepsi yang mungkin di dapat dari mata atau telinga. Tapi coba, sedikit bernalarria, mungkin kah si A curhat mengenai laptopnya yang rusak sehingga yang ia percaya hanya pada si C yang jurusan teknik yang dapat membantunya. mengapa tidak berpikir positif saja.
Menurut Rollo may, seorang psikolog eksistensial USA, salah satu dari mode kemengadaan manusia dalam dunia (Being in the world) adalah Mitwelt, yang menerangkah hubungan tentang manusia berelasi dengan manusia lain, dimana manusia hanya melihat manusia lain dari kacamatanya sendiri dan tidak bisa mengerti betul kebutuhan mereka. Karena itu, seringkali merusak identitas manusia lain yang sebenarnya. “Dalamnya laut masih terukur, dalamnya hati siapa yang tahu.” secara gampang dapat dikatakan seperti itu. sehingga sulit memang untuk berbaik sangka ketika orang lain menampakkan perilaku yang nyata2 membuat kita cemburu. Namun kembali, belum tentu apa yang terlihat dari kacamata kita adalah maksud yang sebenarnya.
Pernah mendengar. Loves is never without jealous. Saya suka kata – kata ini. Karena memang benar. But, what the meaning of being jealous? Jika akhirnya perpecahan. Menganggap orang tua atau teman kita, atau atasan kita pilih kasih.
Where does a feeling jealous come from? Sebuah perasaan yang butuh Pengakuan dari orang lain, Penghargaan, Membutuhkan perhatian. :D saya berbicara seperti ini seolah saya tidak pernah cemburu. Hehe. Sedikit curhat, ketika maen aplikasi FB beberapa hari lalu saya tertohok sekaligus tersinggung, hasil warna yang sesuai dengan ultah saya adalah WHIte yang berarti “You get jealous easily.” :D
But, was the feeling jealous wrong? it wasn’t so. Tidak juga. Pada tempat yang tepat jealous bisa menjadi motivasi. “ I should be better then ……” yang jelas membaikan diri harus dengan cara sportif.
Pada arti lain, saya cari di kamus Inggris – Indonesia. Jealous berarti hati – hati atau waspada. Bila disangkutkan, betapa kita harus waspada pada apa yang kita simpulkan, belum tentu ia adalah kebenaran. jangan sampai kita terserang cemburu buta yang mengakibatkan perpecahan.

Jumat, 18 Mei 2012

Indonesia is a piece of heaven




Kamis 17 May 2012
Masih melanjutkan kisah sebelumnya.
pagi itu dalam kereta menuju kota tercinta. BLITAR. saya duduk pada bangku 4E. Alhamdulillah itu berarti saya duduk di dekat jendela. sebelah saya msih kosong, dua penumpang di depan saya seorang kakek dan seorang perempuan yang menurut saya berumur 27an tahun. Kami hanya memulai mengobrol saling menanyakan tempat dimana kami akan turun. Cukup sampai disitu. Stasiun berikutnya. si embak berkacamata duduk disebelah saya. Si embak ini rame, istilah tepatnya ‘berisik’. Beberapa kali ia meminjam kipas, menyuruh saya membuangkan sampah lewat jendela. bahkan menyuruh saya mengangkatkan telfon. *apa maksudnya coba?
“Mbak minta tolong buangkan.” katanya sembari menyerahkan bungkus biscuit.
“Di buang di bawah bangku saja mbak.” jawab saya sedikit malas.
“jangan mbak nanti keretanya kotor.” tampang memaksanya sedikit membuat saya nyaris emosi.
Akhirnya saya buangkan. entah kenapa saya jadi ingat seorang teman. Yang dulu selalu melarang membuang sampah di luar kereta “Kalau di dalam kan ada yang nyapuin, kalau di luar, di rel, siapa yang mau nyapu.” begitu katanya.
Katakanlah mbak tadi bernama Mawar. Sudah ada berapa mawar dalam gerbong kereta itu, gerbong 1 2 3 4 5 6 7, kereta jurusan malang, bandung, yogya, banyuwangi, Jakarta. Itu mawar yang di kereta, yang di bus kota, bemo, kapal laut. Kira2 ada berapa mawar? sepuluh? seratus? seribu? Itu lah yang membuat hal ini “membuang sampah sembarangan” terkesan mengakar menjadi budaya negara. Membuang sampah sembarangan? wajar.
Sebelumnya, saya tak pernah berpikir jauh tentang sebuah bungkus permen, akan saya lempar begitu saja dimana pun saya berada. Namun sekarang saya teringat teman saya lagi. Suatu saat kami berjalan bersama dan dengan sengaja saya membuang bungkus permen di jalan. “Ambil.” kata teman saya. “Nggak mau, kalau nggak ada tempat sampah berarti boleh dibuang dimana pun.” sifat pengeyel saya beraksi. “Ambil, simpan di saku.” katanya lagi.  Tak saya gubris. Saya terus berjalan. Tapi ternyata teman ini tetap berdiri di tempat, ia tak mengikuti saya. Saya tahu maksudnya. Lalu saya mengambil bungkus permen tadi. Dan masalah selesai.
Pelajaran kecil. banyak hal yang sering kita sepelekan. yang kita tak pernah menyangka, bahwa itu akan berdampak besar. karena hal sepele itu hampir dilakukan oleh semua orang. Coba semua orang seperti teman saya tadi? Kalah bersih Jerman saja sama Indonesia. *bisa2 ge-er ini dia.
Jika dalam buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” Salim A Fillah menuliskan Medan is Honesty dan Yogyakarta is Hospitality. So what Indonesia is? clumsy?.  No, Indonesia is a piece of Heaven begitu kata pujangga. Tapi tepatnya mungkin heaven yang tepi2 yang tetanggaan sama neraka.
Berbicara tentang budaya, saya ingin melencengkan topic tulisan saya. Indonesia tak hanya kumuh. Tapi molor. Anda pernah mendengar “Maaf, saya terlambat.” Berapa kali sebulan. Seminggu. Sehari. Saya yakin akan sangat sering. Mengapa? Apa salah Indonesia hingga dikutuk memiliki rakyat yang kotor dan molor.
Indikasi saya. salah satunya adalah karena warna Indonesia adalah egosentrisme. Loh? Karena orang yang telat seringkali tak mau dirugikan dengan datang tepat waktu.
“Ah nanti dianggap terlalu rajin, terlalu bersemangat.”
“Nggak mau ah, orangnya kan mungkin juga telat. daripada saya nungguin.”
“Lebih baik telat, nungguin itu membosankan.”
“bentar ah, belum waktunya berangkat.”
………………………………………………………….
beberapa kata di atas lah alas an yang mungkin digunakan teman anda, tetangga anda, anda, atau bahkan saya dan orang2 pada umumnya. Seringkali telat adalah suatu pilihan. Yang menjadi penghalang bukan unsur eksternal tapi internal.
Jadi apa kesimpulannya?
Bukan
Bukan salah Indonesia
Bukan salah pak Esbeye
Salah saya, salah anda, salah kita semua.
Lalu bagaimana cara kita memperbaiki. Mungkin anda masih ingat dengan seorang teman yang saya ceritakan di atas. Dengan tegas mengingatkan saya untuk membuang bahkan sebuah bungkus permen. Mari kita mulai dari diri sendiri.
Kalau masalah telat. Masih ingat cerita saya tentang pengalaman saya kehabisan tiket kereta. Apakah saya telat? tidak. saya tidak telat karena kereta tak akan berkompromi jika saya telat. Bahkan orang2 datang lebih awal. Bagaimana ya, jika telat di Indonesia tidak dikompromikan? :D

Actually, banyak sekali keunggulan Indonesia. Semua sudah tahu, karena wawasan nusantara di pelajari sejak SD hingga kuliah. Tapi kenapa ini. Was Indonesia lack? Human resource is the answer.
Karena itu “Change Your Life” kata Ustad Ahmad Arqom. Merubah diri = merubah orang di sekitar kita. Modelling learning Bandura = apa yang sering anda lihat, kian lama akan merubah pikiran anda. Kita tak perlu koar2, cukup lakukan untuk diri sendiri. Paling tidak, Indonesia akan menjadi a piece of Heaven bagi diri kita sendiri.

Kamis, 17 Mei 2012

Just Through Your Smile



RABU 16 may 2012
Aneh. Sepagi itu, berderet – deret hal yang perlu diselesaikan nongol serempak di depan mata. Rabu, kebetulan adalah jadwal piket masak di asrama. Cha kangkung tempe, pindang tomat pedas, dan sambal goreng kentang tahu target terselesaikan dalam satu jam. Gagal. Jam menunjuk pukul 05.45, kurang satu menu tapi pukul 06.00 saya harus di lokasi rapat. Seperti kata George Kelly dalam buku Theories of Personality manusia adalah ilmuwan kehidupan yang harus membuat hipotesis sebelum ia memilih apa yang akan ia lakukan. Dan akhirnya saya memutuskan meminjam motor teman sebelah kamar, dan saya berhasil berangkat menuju fakultas. DAN what the heaven! Gerbang fakultas masih tutup. Saya memutar otak, saya harus parkir dimana motor pinjaman ini, akhirnya tempat parkir  fakultas sebelas (fakultas bahasa) sudah buka. Saya sengaja memarkir di dekat pintu keluar, supaya mudah pikir saya. tapi ada yang mengganjal, dieeeeng saya lupa meminjam STNK. Lalu bagaimana motor  bisa keluar dari parkir tanpa STNK. Pada saat itu jam mununjuk pukul 06.05. Saya harus cepet – cepat kabur dari tempat ini sebelum bapak penjaga parkir tahu. Akhirnya melalui pintu masuk saya berhasil keluar. Dan akhirnya saya uji nyali, memarkirkan motor orang di luar kampus. Dan sepanjang rapat, saya hanya banyak memikirkan tentang motor pinjaman itu.

Anggap saja persoalan rapat dan motor selesai. Beralih jadwal selanjutnya. Praktek konseling pukul 10.00. Sepulang rapat pukul 07.30 saya langsung merampungkan memasak satu menu yang belum terselesaikan. 08.00 selesai. Mandi, Makan, nyetrika, baca buku sedikit, buka sms dan Huaaaaaaaa. Apa yang terjadi pemirsa, Klien praktek saya tiba2 membatalkan janji. Padahal itu pukul 09.00 dan praktek dimulai pukul 10.00. saya mencoba menghubungi nama2 dalam phonebook yang sekiranya dapat dimintai tolong untuk saya jadikan klien praktek. Dag dig dug tetap belum ada yang mengatakan jawaban “YA”. Hingga pukul 09.30, saya masih mencoba menenangkan diri dengan mondar – mandir di kamar. ALL IS WELL.
“Ukh ada teman yang mau jadi klien.”  Splasssh rasanya seperti terbang. Segera saya layangkan kaki menuju kampus. Dan praktek pun segera dimulai.
Flashback. Malamnya, saya memikirkan cara besuk saya bisa pulang, akhirnya usaha terakhir saya mengirim message untuk teman saya dan mengatakan saya bolos untuk kelas KLINIS dan PIO, lalu saya minta tolong dia untuk membelikan tiket kereta terakhir ke Blitar, teman saya menjawab iya.
Kembali lagi, di dalam lab. Menunggu giliran praktek. Teman saya yang saya message tadi malam dating “TIKET HABIS” Huaaaa what today is?? Hari apa ini??? Saya sudah lemas.  Praktek konseling masih berjalan. Dan perasaan rindu akan rumah sedikit mengganggu  praktek hari itu .
Pukul 12.30 praktek selesai. Saya dan beberapa teman menuju musholla, namun di dekat tangga, saya bertemu salah satu teman dan dia member tahu PIO KOSONG. Huaaa semakin sakit hati saya, Saya tidak tahu Tuhan, ini berkah apa musibah, yang pasti saya hanya akan berperasangka Baik terhadapMu. Hanya KLINIS, loyo. Psentasi tentang Psikodrama dan Psiko kelompok menjadi sangat tak menarik. Ibuuuuuu.
Pukul 03.00 kelas selesai. Hari itu saya berencana menginap di rumah salah seorang teman, karena agar  lebih mudah menuju stasiun besoknya.
“Cin, gimana kalau mampir stasiun bentar.”
“Iya.”
Saya masih sedikit berharap kereta sore masih memiliki hati dan menunggu saya. Ohya, ini bukan di stasiun yang biasanya saya naik kereta. Jadi di stasiun ini, dapat membeli tiket kapan pun.
“Permisi pak, kereta ke Blitar sudah berangkat.”
“Yah, sayang sekali mbak. Barusan saja.”
Terima kasih pak *senyum paittt
 Kamis 17 May 2012
Saya bangun pukul 03.00. sholat dan bersiap – siap menuju stasiun. Takut kehabisan tiket. Pukul 04.00 saya sudah siap semuanya. Tapi belum adzan. Saya menjadi berencana untuk sholat dulu sebelum berangkat, tapi ternyata bapak muadzin luama nggak adzan2. Huffff…..baru pukul 04.15 saya berakat ke stasiun. Sesainya di stasiun saya sedikit lega. Tak beitu banyak orang. Saya segera bergabung dengan pengantri di depan loket. Tapi tanpa hati, bapak2 gendut memasang pengumuan “TIKET KERETA PERTAMA H.A.B.I.S” ;’( dan saya harus menunggu kereta berikutnya 3 jam kemudian.

Oh really. What the meaning of all that was, God??
Di saat hati yang sesumpek itu, apa kira2 yang seseorang akan pikirkan. Fuck? Damn? Shit? Could the one of them help you to solve your problem. Or just repair your messing day? No way.
Apakah hari itu hari buruk saya? Lebih mudah kita mengatakan iya. Tapi saat ini, saya sedang ingin mengatakan tidak. Hari itu saya sedang belajar berpositif feeling apa pun kondisi saya. Bukan salah hari apa, bukan salah kereta, bukan salah klien yang membatalkan janji. Tapi bagaimana cara saya mendinginkan kepala menghadapi semuanya. Terkadang, masalah tidak terselesaikan. Tapi, kemungkinan yang harus tetap kita hadapi adalah ya menghadapinya, sepahit apa pun.
Kalau saja kepala saya tak mendingin waktu membaca sms dari klien praktek dan tidak mencoba menghubungi seluruh nomer di phonebook, apa yang terjadi?? Akankah ada teman yang menawari bantuan. Mungkin saya menangis mengunci diri di kamar.
Begitu juga dalam masalah yang lain, sebesar apa pun. Penyelesaian bisa jadi dating hanya dengan cara anda tersenyum. Who knows?? Yang jelas pelajaran dari semua tulisan saya keep positif feeling whatever a big problem comes. Facing your problem with your  sweetest smile :)

Minggu, 01 Januari 2012

Angka 13


Dan sebenarnya saya tidak mempunyai niatan merayakan New Year. Apalah daya, tumpukan tugas itu ternyata berhasil merayuku untuk merayakan pergantian tahun dengan mereka. Mereka, mereka itu dua mata kuliah yang sering membuat uring –uringan saya dan teman – teman saya di kelas. Psikologi Eksperimen dan Metodologi Penelitian Kuantitatif. Sebenarnya tugas – tugas itu bisa saja selesai lebih awal. Jika nih, jika saya tak pulang kampung dan menghabiskan masa minggu ‘tenang’ di Surabaya. Jika nih, jika saya tidak bepergian alias melancong bersama keluarga saya ke Ngawi dan Kediri. Jika nih, Jika tidak keluar dengan kakak, tidak jalan – jalan dengan Nita, tidak pergi bareng Ayin. Hahaha banyak alasan, bilang saja malas. Ah nggak kok. Saya sudah mencicil dari awal, dasarnya aja tugasnya banyak --- berhentilah mencari kambing hitam futri -.-“ ---
Dan sekarang saya tidak mengerti, saya menikmati malam di depan Sammy –samsung netbook saya—detik ini menunjukkan pukul 02.10. Wah sudah malam juga. Beberapa jam yang lalu masih 2012 dan sekarang, mau tidak mau saya tidak boleh lupa mengganti angka 12 menjadi angka 13 di setiap cacatan saya. Walau pun saya tidak pernah diajari keluarga saya untuk mengucapkan “Happy New Year” ketika pergantian tahun. New year’s Eve benar – benar berisik diluar dan  biarlah mari biar saya lambaikan tangan pada angka 12. Angka 13 terlihat lebih memesona sepertinya.
Tahun baru masehi memang bukan tahun baru agama saya. Tapi berdoa di awal tahun ini tidak ada mudharatnya. Saya berharap saya lebih Rajin beribadahnya ke Allah. Saya lebih sering membuat bangga Ibuk dan Abi. Saya tidak mudah ribut – ribut tidak penting dengan adik – adik saya. Saya lebih mampu mengemban amanah yang ditimpakan kepada saya –terutama MY club—Saya lebih rajin menulis, membaca, berinfaq,hafalan, bersilaturrahmi. Saya lebih tinggi lagi badannya –hehe--. Saya lebih rajin makan siang –yang awalnya sering lupa—karena itu penting. Saya lebih mampu menjaga hati saya –yang masih sering bandel-- . Saya mampu menjadi contoh yang baik bagi adik – adik baik di asrama maupun di rumah. Saya mampu menjadi mahasiswa yang baik. Saya harus mampu mendapat beasiswa yang tertunda itu. Ahh…apa lagi ya. Ada yang nyeletuk kalau tentang jodoh bagaimana? –siapa juga yang nyeletuk—“jangan datang dulu pak calon suami, saya belum siap, saya masih jelek. saya belum bisa dandan dengan baik :D , masakan saya terkadang masih asin.” kalimat terkhir cuman intermezzo ya ;D.
Dan saya benar – benar belum mengantuk. Bagaimana ini, oh good day cappucino. Benar – benar. Saya sepertinya harus mengucapkan salam pada tugas yang harus saya garap besok, “Hi Psikodiagnostic III, be nice ya.”
Bagaimana pun 12 berperilaku terhadap saya, biarkan. Dialah guru saya nomer 20. dan semoga tahun 2013 ini lebih penuh barakah, amiin
bismikallahumma nada`u. fi ghuduwiw wa rawah. laka minna kullu hamdin. fi masaiw wa sobah. hablana minka roshadah. wahdiina subulasolah. inna taqwa allahi nurun. wa toriqul lil falah