Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2016

Mengelola Rasa



Hi World! Maaf atas ketidak nongolan hampir setahun ini. Hari ini aku ingin memperkenalkan buku baruku yang diterbitkan oleh Quanta Elekmedia Komputindo. Judul a da lah....

telah tersedia di TB Gramedia @Rp. 47.800



Buku ini ada untuk bersama belajar mengelola rasa. Rasa cinta yang hadirnya sering tanpa sengaja dan bandelnya luar biasa, agar tetap pada batasnya, agar mampu menyikapinya, agar tak turut tersesat dalam kubangan maksiat, tapi terus berjalan dalam koridor taat. Tidak melalui banyak teori, karena kita tahu teori tentang cinta selalu tidak valid, karena kita tau teori cinta adalah tidak ada teori.



SINOPSIS
Kalau sedang jatuh cinta, tidak apa-apa, jatuhlah. Tapi jatuhlah seperti cara hujan, jatuh yang menumbuhkan.

Banyak yang mengatakan, bangunlah cinta, jangan jatuh cinta. Tapi siapa yang dengan mudah bisa membangun di hati yang masih amburadul. Buku ini, adalah untuk kami yang ibadahnya belum selangit, tapi berupaya bangun setelah peristiwa jatuh cinta. Karena bangun ketika pada awalnya kita tidak jatuh itu mudah, yang sulit adalah bangun dari peristiwa jatuh. Kami harus merayu paksa perasaan kami yang diluluh-lantakkan oleh hati kami sendiri, kami harus pontang-panting mengerahkan segenap kekuatan untuk bangun dan bertumbuh, karena meski kadang bermasiat, kami berupaya membentengi diri dari agar tetap berjalan pada koridor taat.
Cinta adalah anugerah, yang datang bukan untuk dilarang. Cinta adalah hak asazi rasa, biarlah kita menemukan cara untuk mengelola. Meski ada rasa dalam dada, walau terselip cinta dalam hati, semoga Dia senantiasa kami taati.
Cinta adalah fitrah. Tapi  kita selalu memiliki kesempatan mengelola rasa agar tetap terarah.


Bila menginginkan buku ini bisa langsung ke toko buku online atau hub. wa 085755101223

Jumat, 19 September 2014

loving this job


Besuk adalah weekend kedua, dan minggu depan adalah minggu ketiga saya bekerja. Bekerja? Cieee kerja ciee. Tapi anehnya saya enggak merasa bekerja, haha. Dua hari hari terakhir ini,  adalah hari-hari pertama saya dibiarkan pegang sendiri sejak saya resmi menjadi terapis di sebuah rumah terapi autism anak di kota saya tercinta, Blitar. Meskipun masih menerapi anak dengan gangguan ringan tapi lumayan kagok alias nderedeg. Kemarin saya memegang anak Slow Learner, hari ini Reterdasi mental dan AVT (Audio Visual Theraphy). Meskipun sering nyontek selama prosesi, Alhamdulillah lancar.
Sejauh minggu kedua ini, saya suka pekerjaan saya. Saya suka suasana tempat terapi yang kondisinya ‘Psikologi’ banget. Bukan karena kebanyakan memang orang-orang Psikologi, tapi karena budaya di dalamnya. Banyak orang Psikologi yang kurang bisa memaknai cara bergaul dengan sesame. Di tempat kerja saya, asas yang dijunjung tinggi adalah penghargaan. Jangan coba-coba ngrasani alias nggosipin kejelekan teman kalau tidak mau kena tegur ketua terapis. Saya bilang begini karena memang sudah ada contoh kasus.
Pertama masuk kerja saya dibikin terharu karena semua terapis mau pakai seragam yang seharusnya dipakai hari rabu demi menyamakan seragam dengan saya karena seragam saya yang hari senin belum jadi. Istilah mudahnya, mereka semua ngakrabi, tidak membuat saya sungkan. Dan meskipun saya berungkali salah, cara kasih tahu saya pun tidak bernada nggurui sehingga saya lebih mudah menerima.
Semoga ini bukan hanya di awal. Semoga pekerjaan ini terus menyenangkan. Belum-belum, saya sudah mendapat banyak PR, dan diantara tugas yang paling sulit adalah belajar mbentak peserta terapis yang masih anak-anak. Haha ya awalnya saya ndak tega bentak mereka. Muka mereka lucu, meskipun salah tetep saja saya pengen ketawa. “Bu Futri, dengan anak ADHD (Hiperaktif) dan Autis kalau kita tidak bentak, kita tidak direken.” Jadi saya mulai belajar bisa bentak mereka kalau mereka salah. Intinya harus tegaan, karena mereka sedang belajar. Pembiasaan dan pemaksaan yang membuat mereka merubah perilaku.
Banyak sekali ilmu yang saya dapat. Dan sepertinya ilmu teoritis di kampus belum ada apa-apanya dibanding praktek nyata seperti ini. Saya senang meskipun diberi tugas buka dan baca lagi buku materi, bikin laporan observasi. Tapi overall, pekerjaan ini menyenangkan.

23:09
Blitar 19 September 2014

Selasa, 16 September 2014

God, thanks for surprising me


Analogi yang baik untuk kehidupan bagi saya adalah semacam labirin, semacam ruangan penuh sekat atau lebih indah lagi kita sebut saja taman sesat. Cara yang paling mudah untuk mengetahui jalan terbaik sebenarnya adalah di lihat dari atas, dan karena kita tidak mungkinnaik ke langit melakukannya, cara lain yang bisa kita lakukan adalah membaca peta (petunjuk). Cara terbaik untuk melalui tiap lorong labirin adalah membaca petunjuk oleh sang pembuat labirin, sang pembuat hidup.
Beberapa minggu terakhir, saya harus mau melewati many frustrating moments, hal ini karena rencana hidup saya A,B bahkan C belum di-acc oleh Yang Mahamerencana. Tidak apa-apa, saya sudah memutuskan untuk mempercayai sepenuhnya rencana Allah dalam hal apa pun.
Sehari pasca wisuda, saya mendapat pesan via whatsapp dari kenalan Ayah saya yang seorang dosen di sebuah universitas di Kota Malang. Saya ditawari bergabung sebagai terapis di lembaga terapi beliau. Waktu itu saya tidak berminat, karena plan A saya adalah sekolah lagi. Akhirnya saya tolak dengan halus. Saya kemudian berjibaku dengan pendaftaran beasiswa.
Di sini awalnya saya sangat berharap karena saya dipertemukan dengan Trina, kenalan saya dalam suatu perjalanan pulang di kereta, dia penerima beasiswa di funder tempat saya mendaftar. Batin saya, apa maksud Allah mempertemukan dengan Trina? Karena kemudian saya lumayan dekat dengan dia. Apakah Allah mengirim Trina untuk membantu saya? Saya semakin besar hati ketika Trina banyak membantu, dia meng-esemes saya kalimat-kalimat motivasi, menyarankan tips-tips, memberi contoh esay dia yang sudah tembus, dan memberi web-web yang harus saya kunjungi dan pelajari. Dan benar, saya semakin berharap.
TET TOT. Hari H pengumuman, setiap ada pemberitahuan email masuk di hape, jantung saya sudah mau loncat saja. Tapi saya tunggu sampai sore, pengumuman tak kunjung saya terima. Saya dirundung kegalauan. Akhirnya saya sholat hajat, minta pada Allah, apa pun yang terjadi jadikan saya menerima keputusan-Nya dengan hati yang luas, sesudah itu saya benar-benar tenang, jantung saya pun tidak main ayunan seperti sebelumnya. Hingga besoknya saya membuka email dan nama saya tidak ada di list ewardee, anehnya saya tidak ada rasa kecewa. Alhamdulillah, pasti Allah memiliki maksud lain.
Dua hari sebelum pengumuman, seorang sepupu yang bekerja di jogja yang kebetulan juga mengambil Magister Profesi Psikolog (Jurusan yang saya mau) tiba-tiba bbm saya, menyuruh saya minta izin Ayah buat jadi guru di sekolah khusus (sepupu saya adalah kepala di sekolah tersebut). Saya berkata dalam hati, saya harus keluar dari Blitar, memperluas zona nyama, sepertinya Jogja tempat yang tepat. Dan saya mulai merayu Ayah, dan seperti biasanya, percakapan dengan beliau selalu penuh diplomasi.
Ayah      : Cita-citamu apa, Mbak?
Saya       : Menjadi ahli psikologi dan membangun rumah-rumah terapi dan biro konsultan psikologi di daerah-daerah.
Ayah      : Bangun tempat terapi di Blitar?
Saya       : Yups
Ayah      : Kenapa ndak bangun relasi di Blitar dulu?
Saya       : *diam* *mikir* (menyimpulkan, saya tidak diizinkan ke Jogja)
Ayah memang tidak pernah melarang saya ini-itu, tapi saya dibuat berpikir oleh kalimatnya. Dan ya, akhirnya saya menghubungi sebuah tempat terapi dimana saya dulu pernah praktek. Gayung bersambut. Bu Santi, yang kebetulan lumayan saya kenal dekat langsung menanggapi baik karena kebetulan tempat terapi yang dipimpin beliau sedang membutuhkan terapis. Fix, saya bekerja di sana.
Beberapa hari kerja di tempat terapi itu, saya dibuat menganga oleh banyak hal. Saya seolah merasa, Allah mengirim saya ke tempat baru ini bukan sekedar bekerja, sepertinya saya disekolahkan lagi. Bagaimana tidak? Saya harus buka materi kuliah lagi, dan luar biasanya, manajemen di tempat baru saya sudah demikian tertata, rapat evaluasi rutin, membentuk keorganisasian (jadi panitia ini itu lagi :D ), hampir persis seperti suasana kampus, bedanya prakteknya lebih berasa.
Dan hari ini, hari paling luar biasa sejauh awal bekerja saya. Saya menerapi (tepatnya ikut menerapi, karena masih dalam masa training) salah seorang anak ADHD (Hiperaktif) yang sangat luar biasa. Luar Biasa, karena saya sempat terkena bogem mentah darinya beberapa kali yang membuat pipi saya nyut nyut. Saya belum pernah menemukan anak seaktif ini, yang bahkan tidak bisa duduk diam lebih dari tujuh menit. Saya merasakan betapa pontang pantingnya mengajarinya sekedar berkata sederhana “mau” “minta” “tolong” “terimakasih”. Dan itu luar biasa sekali. Saya merasa saya benar-benar hidup ketika dihadapkan mereka. Ada rasa tertantang yang sangat untuk menakhlukkan mereka. Saya merasa dikirim Allah di tempat yang sebenarnya saya sangat inginkan. Iya Allah tahu, saya suka berhadapan dengan manusia.
Yah, meskipun saya harus mencari cara penyampaian alasan terbaik untuk menolak mendaftar PNS seperti yang Ibu dan beberapa kerabat saya inginkan. Meskpun gaji yang saya dapat pun tidak sebanyak teman-teman yang berkerja di kantor terutama di kota besar. Tapi saya yakin, pekerjaan ini adalah titik dimana Allah ingin menata saya menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi di hari depan. Terimakasih ya Allah. Dan saya tetap percaya, Allah tidak akan kehabisan cara untuk menyekolahkan mereka yang ingin belajar. Allah Mahakaya, apalagi sekedar menyekolahkan seorang Futri, hihi.

Blitar, 16 September 2014

Rabu, 30 April 2014

April Moments


Entah mengapa. Malam hari H diantara hari-hari yang kuupayakan aku justru tak kuat mengangkat kepala. Aku rindu menulis blog. Tapi sayang, modem tak ada isinya, hehe. Yah mungkin bisa di posting kapan-kapan.
Ya Allah terimakasih memberiku April seindah ini. Dari dulu-dulu, April selalu menjadi bulan paling sibuk. Entah dalam alasan apa, mungkin termasuk 22 tahun yang lalu, yang kehadiranku menyibukkan seluruh isi rumah. Ya, aku dua puluh dua sekarang. Tapi masih puteri kecil abi yang banyak mau. Ini proses ini proses.
April, sekali lagi. Allah membuatku sibuk belajar banyak hal. Mulai dari mengenalkanku tentang Lekok dan segala keunikan budayanya. Memberiku pengalaman mengajar Ibu-ibu lanjut usia. Mengenalkan sebuah kerja sistem politik. Hingga begadang semalaman demi rekap data saksi. Kampanye, sampe dibela-belain lari di GOR Delta. Tabulasi berlembar-lembar form C1,D1,D-A1 hingga mata kliyengan. April ini benar-benar moment. Moment Pemilu. Moment pergantian pengurus di Muslims Youth Club, Moment realisasi PKM, Moment kebut skripsi sempe ngepot-ngepot. Ya Allah terimakasih memberiku April seindah ini.
Dan besuk. Bagaimana rasanya jadi aku di hari besuk ya? Mataku sudah pusing melihat monitor, minusku sepertinya menambah. Tapi, biarlah. Aku ingin menulis ini. Selesai ini, aku ingin mematikan Sammy (Samsung netbook), lalu tidur. Entah sejak kapan aku tidak tidur sebelum pukul 22.00. Aku ingin merasakannya malam ini.
Ya Allah, telah aku upayakan apa yang aku bisa. Sekarang aku bertawaqal. Aku percaya Kau pasti memberi jalan terbaik, melancarkan apa yang sulit, dan memberi petunjuk-petunjuk dalam setiap keputusan, aamiin.

Surabaya, 27 April 2014
Futri Zakiyah Darojat