Hi World! Maaf atas ketidak nongolan hampir setahun ini. Hari ini aku ingin memperkenalkan buku baruku yang diterbitkan oleh Quanta Elekmedia Komputindo. Judul a da lah....
telah tersedia di TB Gramedia @Rp. 47.800
Buku ini ada untuk bersama belajar
mengelola rasa. Rasa cinta yang hadirnya sering tanpa sengaja dan bandelnya
luar biasa, agar tetap pada batasnya, agar mampu menyikapinya, agar tak turut
tersesat dalam kubangan maksiat, tapi terus berjalan dalam koridor taat. Tidak
melalui banyak teori, karena kita tahu teori tentang cinta selalu tidak valid,
karena kita tau teori cinta adalah tidak ada teori.
SINOPSIS
Kalau sedang jatuh cinta, tidak
apa-apa, jatuhlah. Tapi jatuhlah seperti cara hujan, jatuh yang menumbuhkan.
Banyak yang mengatakan, bangunlah
cinta, jangan jatuh cinta. Tapi siapa yang dengan mudah bisa membangun di hati
yang masih amburadul. Buku ini, adalah untuk kami yang ibadahnya belum
selangit, tapi berupaya bangun setelah peristiwa jatuh cinta. Karena bangun
ketika pada awalnya kita tidak jatuh itu mudah, yang sulit adalah bangun dari peristiwa
jatuh. Kami harus merayu paksa perasaan kami yang diluluh-lantakkan oleh hati
kami sendiri, kami harus pontang-panting mengerahkan segenap kekuatan untuk
bangun dan bertumbuh, karena meski kadang bermasiat, kami berupaya membentengi
diri dari agar tetap berjalan pada koridor taat.
Cinta adalah anugerah, yang datang
bukan untuk dilarang. Cinta adalah hak asazi rasa, biarlah kita menemukan cara
untuk mengelola. Meski ada rasa dalam dada, walau terselip cinta dalam hati,
semoga Dia senantiasa kami taati.
Cinta adalah fitrah. Tapikita selalu memiliki kesempatan mengelola
rasa agar tetap terarah.
Bila menginginkan buku ini bisa langsung ke toko buku online atau hub. wa 085755101223
Besuk
adalah weekend kedua, dan minggu depan adalah minggu ketiga saya bekerja.
Bekerja? Cieee kerja ciee. Tapi anehnya saya enggak merasa bekerja, haha. Dua
hari hari terakhir ini,adalah hari-hari
pertama saya dibiarkan pegang sendiri sejak saya resmi menjadi terapis di
sebuah rumah terapi autism anak di kota saya tercinta, Blitar. Meskipun masih
menerapi anak dengan gangguan ringan tapi lumayan kagok alias nderedeg. Kemarin
saya memegang anak Slow Learner, hari ini Reterdasi mental dan AVT (Audio
Visual Theraphy). Meskipun sering nyontek selama prosesi, Alhamdulillah
lancar.
Sejauh
minggu kedua ini, saya suka pekerjaan saya. Saya suka suasana tempat terapi
yang kondisinya ‘Psikologi’ banget. Bukan karena kebanyakan memang orang-orang
Psikologi, tapi karena budaya di dalamnya. Banyak orang Psikologi yang kurang
bisa memaknai cara bergaul dengan sesame. Di tempat kerja saya, asas yang
dijunjung tinggi adalah penghargaan. Jangan coba-coba ngrasani alias
nggosipin kejelekan teman kalau tidak mau kena tegur ketua terapis. Saya bilang
begini karena memang sudah ada contoh kasus.
Pertama
masuk kerja saya dibikin terharu karena semua terapis mau pakai seragam yang
seharusnya dipakai hari rabu demi menyamakan seragam dengan saya karena seragam
saya yang hari senin belum jadi. Istilah mudahnya, mereka semua ngakrabi, tidak
membuat saya sungkan. Dan meskipun saya berungkali salah, cara kasih tahu saya
pun tidak bernada nggurui sehingga saya lebih mudah menerima.
Semoga
ini bukan hanya di awal. Semoga pekerjaan ini terus menyenangkan. Belum-belum,
saya sudah mendapat banyak PR, dan diantara tugas yang paling sulit adalah
belajar mbentak peserta terapis yang masih anak-anak. Haha ya awalnya saya ndak
tega bentak mereka. Muka mereka lucu, meskipun salah tetep saja saya pengen
ketawa. “Bu Futri, dengan anak ADHD (Hiperaktif) dan Autis kalau kita tidak
bentak, kita tidak direken.” Jadi saya mulai belajar bisa bentak mereka kalau
mereka salah. Intinya harus tegaan, karena mereka sedang belajar. Pembiasaan
dan pemaksaan yang membuat mereka merubah perilaku.
Banyak
sekali ilmu yang saya dapat. Dan sepertinya ilmu teoritis di kampus belum ada
apa-apanya dibanding praktek nyata seperti ini. Saya senang meskipun diberi
tugas buka dan baca lagi buku materi, bikin laporan observasi. Tapi overall,
pekerjaan ini menyenangkan.
Analogi yang baik untuk kehidupan bagi saya
adalah semacam labirin, semacam ruangan penuh sekat atau lebih indah lagi kita
sebut saja taman sesat. Cara yang paling mudah untuk mengetahui jalan terbaik
sebenarnya adalah di lihat dari atas, dan karena kita tidak mungkinnaik ke
langit melakukannya, cara lain yang bisa kita lakukan adalah membaca peta
(petunjuk). Cara terbaik untuk melalui tiap lorong labirin adalah membaca
petunjuk oleh sang pembuat labirin, sang pembuat hidup.
Beberapa minggu terakhir, saya harus mau
melewati many frustrating moments, hal ini karena rencana hidup saya A,B
bahkan C belum di-acc oleh Yang Mahamerencana. Tidak apa-apa, saya sudah
memutuskan untuk mempercayai sepenuhnya rencana Allah dalam hal apa pun.
Sehari pasca wisuda, saya mendapat pesan via
whatsapp dari kenalan Ayah saya yang seorang dosen di sebuah universitas di
Kota Malang. Saya ditawari bergabung sebagai terapis di lembaga terapi beliau.
Waktu itu saya tidak berminat, karena plan A saya adalah sekolah lagi. Akhirnya
saya tolak dengan halus. Saya kemudian berjibaku dengan pendaftaran beasiswa.
Di sini awalnya saya sangat berharap karena
saya dipertemukan dengan Trina, kenalan saya dalam suatu perjalanan pulang di
kereta, dia penerima beasiswa di funder tempat saya mendaftar. Batin saya, apa
maksud Allah mempertemukan dengan Trina? Karena kemudian saya lumayan dekat
dengan dia. Apakah Allah mengirim Trina untuk membantu saya? Saya semakin besar
hati ketika Trina banyak membantu, dia meng-esemes saya kalimat-kalimat motivasi,
menyarankan tips-tips, memberi contoh esay dia yang sudah tembus, dan memberi
web-web yang harus saya kunjungi dan pelajari. Dan benar, saya semakin
berharap.
TET TOT. Hari H pengumuman, setiap ada
pemberitahuan email masuk di hape, jantung saya sudah mau loncat saja. Tapi
saya tunggu sampai sore, pengumuman tak kunjung saya terima. Saya dirundung
kegalauan. Akhirnya saya sholat hajat, minta pada Allah, apa pun yang terjadi
jadikan saya menerima keputusan-Nya dengan hati yang luas, sesudah itu saya
benar-benar tenang, jantung saya pun tidak main ayunan seperti sebelumnya.
Hingga besoknya saya membuka email dan nama saya tidak ada di list ewardee,
anehnya saya tidak ada rasa kecewa. Alhamdulillah, pasti Allah memiliki maksud
lain.
Dua hari sebelum pengumuman, seorang sepupu
yang bekerja di jogja yang kebetulan juga mengambil Magister Profesi Psikolog
(Jurusan yang saya mau) tiba-tiba bbm saya, menyuruh saya minta izin Ayah buat
jadi guru di sekolah khusus (sepupu saya adalah kepala di sekolah tersebut).
Saya berkata dalam hati, saya harus keluar dari Blitar, memperluas zona nyama,
sepertinya Jogja tempat yang tepat. Dan saya mulai merayu Ayah, dan seperti
biasanya, percakapan dengan beliau selalu penuh diplomasi.
Ayah:
Cita-citamu apa, Mbak?
Saya: Menjadi ahli psikologi dan membangun
rumah-rumah terapi dan biro konsultan psikologi di daerah-daerah.
Ayah: Bangun tempat terapi di Blitar?
Saya: Yups
Ayah: Kenapa ndak bangun relasi di Blitar
dulu?
Saya: *diam* *mikir* (menyimpulkan, saya
tidak diizinkan ke Jogja)
Ayah memang tidak pernah melarang saya
ini-itu, tapi saya dibuat berpikir oleh kalimatnya. Dan ya, akhirnya saya
menghubungi sebuah tempat terapi dimana saya dulu pernah praktek. Gayung
bersambut. Bu Santi, yang kebetulan lumayan saya kenal dekat langsung
menanggapi baik karena kebetulan tempat terapi yang dipimpin beliau sedang
membutuhkan terapis. Fix, saya bekerja di sana.
Beberapa hari kerja di tempat terapi itu,
saya dibuat menganga oleh banyak hal. Saya seolah merasa, Allah mengirim saya
ke tempat baru ini bukan sekedar bekerja, sepertinya saya disekolahkan lagi.
Bagaimana tidak? Saya harus buka materi kuliah lagi, dan luar biasanya,
manajemen di tempat baru saya sudah demikian tertata, rapat evaluasi rutin,
membentuk keorganisasian (jadi panitia ini itu lagi :D ), hampir persis seperti
suasana kampus, bedanya prakteknya lebih berasa.
Dan hari ini, hari paling luar biasa sejauh
awal bekerja saya. Saya menerapi (tepatnya ikut menerapi, karena masih dalam
masa training) salah seorang anak ADHD (Hiperaktif) yang sangat luar biasa.
Luar Biasa, karena saya sempat terkena bogem mentah darinya beberapa kali yang
membuat pipi saya nyut nyut. Saya belum pernah menemukan anak seaktif ini, yang
bahkan tidak bisa duduk diam lebih dari tujuh menit. Saya merasakan betapa
pontang pantingnya mengajarinya sekedar berkata sederhana “mau” “minta”
“tolong” “terimakasih”. Dan itu luar biasa sekali. Saya merasa saya benar-benar
hidup ketika dihadapkan mereka. Ada rasa tertantang yang sangat untuk
menakhlukkan mereka. Saya merasa dikirim Allah di tempat yang sebenarnya saya
sangat inginkan. Iya Allah tahu, saya suka berhadapan dengan manusia.
Yah, meskipun saya harus mencari cara
penyampaian alasan terbaik untuk menolak mendaftar PNS seperti yang Ibu dan
beberapa kerabat saya inginkan. Meskpun gaji yang saya dapat pun tidak sebanyak
teman-teman yang berkerja di kantor terutama di kota besar. Tapi saya yakin,
pekerjaan ini adalah titik dimana Allah ingin menata saya menjadi manusia yang
lebih bermanfaat lagi di hari depan. Terimakasih ya Allah. Dan saya tetap
percaya, Allah tidak akan kehabisan cara untuk menyekolahkan mereka yang ingin
belajar. Allah Mahakaya, apalagi sekedar menyekolahkan seorang Futri, hihi.
Entah mengapa. Malam hari H diantara hari-hari yang
kuupayakan aku justru tak kuat mengangkat kepala. Aku rindu menulis blog. Tapi
sayang, modem tak ada isinya, hehe. Yah mungkin bisa di posting kapan-kapan.
Ya Allah terimakasih memberiku April seindah ini. Dari
dulu-dulu, April selalu menjadi bulan paling sibuk. Entah dalam alasan apa,
mungkin termasuk 22 tahun yang lalu, yang kehadiranku menyibukkan seluruh isi
rumah. Ya, aku dua puluh dua sekarang. Tapi masih puteri kecil abi yang banyak
mau. Ini proses ini proses.
April, sekali lagi. Allah membuatku sibuk belajar banyak hal.
Mulai dari mengenalkanku tentang Lekok dan segala keunikan budayanya. Memberiku
pengalaman mengajar Ibu-ibu lanjut usia. Mengenalkan sebuah kerja sistem
politik. Hingga begadang semalaman demi rekap data saksi. Kampanye, sampe
dibela-belain lari di GOR Delta. Tabulasi berlembar-lembar form C1,D1,D-A1
hingga mata kliyengan. April ini benar-benar moment. Moment Pemilu. Moment
pergantian pengurus di Muslims Youth Club, Moment realisasi PKM, Moment kebut
skripsi sempe ngepot-ngepot. Ya Allah terimakasih memberiku April seindah ini.
Dan besuk. Bagaimana rasanya jadi aku di hari besuk ya?
Mataku sudah pusing melihat monitor, minusku sepertinya menambah. Tapi,
biarlah. Aku ingin menulis ini. Selesai ini, aku ingin mematikan Sammy (Samsung
netbook), lalu tidur. Entah sejak kapan aku tidak tidur sebelum pukul 22.00.
Aku ingin merasakannya malam ini.
Ya Allah, telah aku upayakan apa yang aku bisa. Sekarang aku
bertawaqal. Aku percaya Kau pasti memberi jalan terbaik, melancarkan apa yang
sulit, dan memberi petunjuk-petunjuk dalam setiap keputusan, aamiin.