Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2014

Mengukur jarak kita


Mengukur jarak kita
Kita terjebak dalam ruang yang sama
Saling melempar sapa yang masih saja bisu
Aku ingin bilang, Ini aku. Itu kamu, bukan?
Kita terjebak dalam ruang yang sama
Takut pada bayangan yang kita kira fatamorgana
Fatamorgana? Kita belum pernah membuktikannya.
Jarak diantara kita hanya sebatas ketakutan
Untuk sekedar memulai bertegur sapa
Untuk merebut paksa akhir waktu yang katanya indah
Kita terjebak dalam ruang yang sama
Luluh lantah menyerah pada waktu
Lalu, kemana ia akan membawa?
Aku takut hatiku berevaporasi sebelum kau tangkap
Kenapa kita begitu tak berdaya
Kita ada di ruang yang sama, bukan?
Dan jarak kita, hanya pada rasa ketakutan.
Kau puas?
Blitar, 9 September 2014

Jika Cinta
Jika cinta adalah musim, maka aku adalah rerumputan teki yang tabah menunggu hujan. Biarlah sejenak aku kerontang sendirian, karena aku percaya, untuk menemuiku, kamu harus menjadi molekul, menguap, berkondensasi, tertabrak petir, lalu aku akan menangkap butir-butirmu yang menyejukkan. 

Jika cinta adalah samudera. Maka aku adalah hilir yang berlatih sabar, untuk menunggumu menekuri tiap lekuk anak sungai, terhantam bebatuan, bermain bersama ikan nila dan belut sawah, tidak apa-apa aku akan sabar. Karena hulu akan mengantarmu padaku di samudera yang sama.

Jika cinta adalah Bulan, maka aku adalah gadis kecil kecil yang menunggu dengan rasa ingin purnama-mu yang saat ini masih saja menyabit. Maka aku adalah gadis kecil, penasaran akan melumpuhkan kejenuhanku. Karena kalau sabit saja seindah itu, apalagi yang purnama.

Jika cinta adalah senja, maka matahari dalam wujud apa pun akan menarik bagiku. Kala pagi saat sinarnya suam-suam kuku dan mengeluarkan aroma embun yang syahdu. Atau kala siang yang membakar dan membuat sesak nafas tanaman padi. Aku tetap suka, karena suatu saat langit akan berubah keemasan, bianglala yang mempesona terpoles di ufuk barat, dan kau akan muncul.

Jika cinta adalah kamu. Aku akan bilang pada Tuhan. Terimakasih. Terimakasih saja karena aku bingung harus bilang apa lagi selain itu.
Blitar, 16 September 2014

Rabu, 26 Maret 2014

Sepotong Senja Sederhana #2


Ada yang berubah
Begitu saja, ketika kau datang
Buram jadi berwarna
Yang biasa mengistimewa
Sederhana menjadi luar biasa
Senja nampak cinta
Hanya satu yang tak berubah. Kau.
 Kau tetap memesona adanya
(130314)

Jangan Menyerah
Jangan menyerah, ada yang mendoakanmu diam-diam, menantimu di akhir perjuangan
Jangan menyerah, karena dimataku, kau terlalu kuat untuk berkata lelah
Jangan menyerah, lalukan bukan untuk ambisi, tapi menggenapi apa yang di hati
Jangan menyerah, bukan Tuhan tak mengabulkan, ketika melihatmu berpeluh Ia hanya memintamu bersabar sembari mengatakan ‘Sebentar’. Lalu membiarkanmu tumbuh sedikit lebih kuat
Jangan menyerah, yang diam bukan tak peduli, ia hanya ingin khusuk meminta pada malaikat agar membantumu.
Jangan menyerah,
(180314)

Kepada Ombak
Kiranya apakah yang ingin kau sampaikan
berkali-kali datang dalam debur yang diam
Kau tahu,
pasir-pasirku yang lembut terbawa sedikit demi sedikit olehmu setiap kau datang
Kau tahu,
Kerang-kerang yang kau hantar kemari selalu kujaga di balik cadas karang sebelah sana
Aku hanya sedang mencoba merangkai
Sketsa tak jelas yang coba kau gambarkan di atas pasirku
Aku hanya sedang menebak
abjad-abjad acak yang kau lempar tak peduli
Ombak. Diam-diam aku belajar darimu..
Bahwa hantaman keras sesiang tadi mampu menjelma kecipak lembut kala senja tiba
Ada sisi lembut yang kau sembunyikan agar terlihat tegar, begitu kan
Bahwa sesibuk apa pun matahari mempekerjakanmu, kau tak pernah lupa bersinggah
Mengirim remah makanan dari tengah samudera untuk anak-anak penyu
Kau lelah, tapi kau selalu singgah
Terimakasih Ombak, membiarkanku belajar diam-diam darimu
(260314)

Surabaya, 
Futri Zakiyah Darojat


Senin, 10 Maret 2014

Sepotong Senja Sederhana #1



Aku tak pernah
Aku tak pernah menitipkan cinta pada siapa-siapa
Tak pada hujan, tak juga pada senja
Aku tak pernah mengatakan rindu
Tak pada laut atau pula langit biru
Aku tak pernah menyisakan ruang, berbagi hati
Aku suka menikmati sendiri
Aku tak pernah..
Tak pernah, sebelum Tuhan menjebakku bertemu denganmu
Denganmu, aku menjadi pernah
(100314)

Pura-pura
Kau tahu aku belakangan terlalu (pura-pura) sibuk
Supaya tak kelihatan aku memikirkanmu
Supaya hatiku teralihkan dari merindumu
Supaya segala tulisanku bukan tentangmu
Supaya dalam mimpiku bukan gambarmu
Supaya, supaya dalam catatanku bukan namamu
Supaya kau tahu, Aku (pura-pura) tak mencintaimu
(100314)

Tuhan tolong
Tuhan, tolong bilang dia, jangan melihat kemana-mana, aku di sini
Tuhan, tolong bilang dia, ada yang menunggu dengan malu, yaitu aku
Tuhan, tolong biarkan aku di dekatMu, agar segera dia menemukanku ketika mencariMu
(100314)


Surabaya, 10 Maret 2014
Futri Zakiyah Darojat