Berhitung
“Bagaimana.”
“Hmmmmm…?”
“Bagaimana jika orang yang kau suka berjodoh dengan orang
lain.”
Fai sempurna menolehku, menyelidik sedikit kea rah mataku,
lalu berjalan tanpa memedulikanku. Kami sibuk dalam pikiran masing – masing.
“Kau tidak perlu bersusah payah mencari jawabannya di otakmu,
Fai.” Sepuluh menit keterdiamannya mengangguku. “Aku hanya ingin mengucapkan
apa yang terlalu sesak di hati, membuangnya sedikit ke tempat sampah. Bukan kah
kau selalu bangga menjadi tong sampah ajaib.”
Fai masih diam, berjalan lebih pelan. Ia seperti benar –
benar tidak merasakan kehadiranku. Aku bahkan sempat memastikan apakah kakiku
masih menyentuh tanah. Fai masih terus berdiam. Sebegitukahnya dia memikirkan
kata – kataku.
“Aku tidak bertanya tentang diriku, Fai.” Drama dimulai.
Fai menoleh, “Manusia selalu bodoh dengan matematika. Bahkan
jika itu ilmuan sekali pun, ia tidak akan mampu mengkalkulasi misteri Tuhan.
Karena itulah, jangan buru – buru terlalu menyukai makhluk. Karena kita tak
akan bisa menafsirkan, apakah di langit sana, tertulis namamu dalam bukunya. Bukan
kah kita tidak pernah diperintah mencintai orang lain. Lalu, apakah kita akan
menyalahkan Tuhan tentang rencanaNya.”
Sekarang aku yang diam. Menjejali otak dengan puluhan
pertanyaan.
“Kau tidak sedang ketakutan jika aku berjodoh dengan orang
lain, bukan?”
“………..”
“Kau melupakan satu hal, Fai.” Kataku kemudian, aku tidak mau
menanggapi gurauannya. Fai selalu begitu, mencairkan suasana dengan memojokkan
lawan bicara. Bicara dengan begitu bijak dengan ending yang sangat
menjengkelkan pendengarnya. Fai, ia teman baikku. Entah mengapa nama kami
hampir sama. Aku Fay. Faya. Dan dia, Fai. Faizal. Aku suka sekali berbicara
dengannya. Meskipun aku belum pernah mengaku jika dia bijak. Tapi entah, dia
adalah tong sampah yang baik. Dia selalu menampangkan langit cerah di wajahnya.
Sayangnya, Fai adalah phlegmatic. Ia pintar sekali menyimpan rapi apa yang
terjadi dalam otak dan hatinya.
“Kau pasti akan membela diri jika dalam menyukai orang lain
pun ada misteri yang tak bisa kau pecahkan.” Balas Fai cepat – cepat. “Kau
selalu lupa, kau seharusnya berterima kasih pada dia.” Fai tersenyum puas.
“Dia?”
“Iya, dia yang kau sukai itu. Setidaknya, dengan dia berjodoh
denga orang lain, kau bisa belajar menguatkan hatimu. Hingga suatu saat, ketika
kau menemukan separuh hati yang telah lama ditakdirkan bersamamu. Kalian akan
menjadi kesatuan yang benar – benar kokoh.”
Aku tersenyum. Okay Fai. Kau banyak benarnya.
“Jangan, Fay.” Katanya kemudian.
“Hah?”
“Jangan memintaku menggantikan orang yang berjodoh dengan
orang lain itu.”
Bukuku sempurna menggeplak bahunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar