Minggu, 09 Juni 2013

Paddington : Farewell


Aku hanya hanyut pada lamunan ketika kau berkata “Aku pulang dulu ya.” Itu kah kalimat permohonan izin, atau berpamit? bagaimana jika aku berkata “Jangan, tunggu aku.” Ahh konyol. Sore itu kami –lagi – lagi di dalam perpustakaan fisher—hanya memandangi deretan pohon ek dari balik jendela kaca. Tanpa membaca, tanpa menulis, atau Salman tanpa menggambar sesuatu. Salman bilangnya, “aku hanya ingin berbicara.” Dan lebih konyol, kenapa aku jadi mellow dramatis seperti menonton serial korea.
“Kau datang lebih dulu, maka kau pantas pulang lebih cepat.” Aku tidak menyangka, kalimat sebijak itu yang keluar dari mulutku. Kemudian Salman tersenyum, tidak kaku seperti biasa.
“Ini bukan tentang cepat atau tidak cepat. Ini tentang, siapa membutuhkan siapa. Aku hanya mau jujur tetang sesuatu.” Katanya dengan mantap. Mantap sekali. “Kau hebat.”
“Hah?” Aku hampir tak mempercayai pendengaranku. Pasalnya ini sepanjang sejarah pertemanan aneh kami, ia mau memujiku.
“Kau hebat bisa sejauh ini.” Lanjutnya kemudian.
“Bukan kah kau jauh lebih hebat.” Jawabku. Tidak ada balasan darinya. Kami kembali menikmati keterdiaman.  “Incongruity, kau pasti hafal di luar kepala tentang itu.” Lanjutku kemudian memancingnya berbicara yang lain.
“Kau baca dari mana istilah itu.” Pendeknya.
“Jangan salah, dalam psikologi juga ada itu. ketidaksenadaan. seberapa jauh ketidakcocokan itu menimbulkan estetika, begitu kan?” Kataku bangga.
“Sejak kapan kau cerdas.” jawabnya sedikit tertawa. “Begitu lah, match tidak selalu senada, dan yang senada tak selalu seirama. hanya seberapa jauh kau mendetailkan ketidak senadaan itu dengan pemfokusan yang lain. huff…” ia tutup kalimat itu dengan desahan panjang, seperti bosan. “Namun bukan berarti yang senada itu tak memiliki estetika, jauh lebih seharusnya. hanya memperhatikan detail. Bahkan lebih mudah pendetailannya.”
Aku heran, kenapa Salman tak menanyakan mengapa aku membahas incongruity. Ia justru menerangkan prinsip – prinsip ilmu arsitektur kebanggaannya. Aku hanya diam mendengarkan, sesekali ber-oh panjang lalu mangut – mangut.
“Tapi, congruity apa yang kau maksud?” Huff…akhirnya pertanyaan itu keluar.
“Sama.” Sebenarnya bukan itu jawaban yang kusiapkan. Aku hanya bingung menata kalimat. “Hanya saja, hidup seringkali tak senada dengan rencana, tak sesuai sketsa, begitu mungkin itu bahasamu.”
“Justru out of line itu yang membuat sesuatu menjadi hidup. Jangan khawatir. Congruity atau tidak, kau akan mendapatkan yang seirama.” Entah kenapa ia tertawa, aku bingung.
“Apa maksudmu?” Aku mulai curiga dengan penebakan pikirannya. –dengan maksud aku takut tertebak maksudku sebenarnya.
“Kita berbeda, tapi kenapa kita bisa berteman. Begitu kan maksudmu.” Jleb, aku terpojok telak. “Aku pendiam, kau banyak berbicara, aku suka menggambar, kau suka menulis, aku bekerja dalam matematika yang terpercaya, kau teori maya yang kau bela mati – matian, hahaha.” Aku masih diam, tak menanggapi –tepatnya bingung untuk menanggapi—“Ajari aku membuat puisi.” Katanya selanjutnya menyadariku keterpojokanku. Ia memang seharusnya tahu muka Maluku yang terlanjur tampak nyata.
“Kau mengekspresikan dengan gambar, kenapa harus repot- repot belajar membuat puisi.” Entah kenapa, untuk menutupi malu, suaraku justru terlihat ketus.
Salman tertawa, kali ini tertawa paling kencang sepanjang hidupnya, aku bertaruh untuk itu. “Kita masih bisa bertemu dan bersahabat, jangan khawatir.” Tawanya memelan.
Kau mengenal teman yang tak kau kehendaki, selalu muncul dengan sangat menyebalkan, yang selalu membuat iri, yang pintar sekali memojokkan, yang mencintai matematika, menjunjung tinggi estetika, dan membela mati – matian nilai sejarah. Itulah Salman. Kau bisa menanyakan bagaimana hitungan hingga atap – atap Gedung Opera itu tidak runtuh, hingga bagaimana cerritanya Korea Utara dan Selatan berpisah, ia hafal di luar kepala. Yah, begitu lah Salman membentuk tidak rata di hatiku. Kemudian dengan seenaknya ia berpamitan pulang. Inilah bagian aneh itu,  ketika kau takut kehilangan orang asing.
“Jangan berhenti menulis. Tulisanmu masih sangat jelek. Kau butuh lima atau tujuh tahun lagi untuk mendapat pujian dunia, itu pun jika kau berlatih 2 jam sehari. Segera pulang juga, ayo membangun Indonesia sama – sama.”
Kalimat itu lah mengakhiri semuanya, Kisah tentang kota kami, Paddington, Perpustakaan Fisher, dan semua tentang pertemanan janggal kami. Ini dia bagian dari menulis yang aku takutkan, pada akhirnya, segala kisah akan kehabisan kata, tidak ada yang dibahas, lalu berhenti sampai di sini. Lalu kita akan dengan susah payah membangun kisah yang lain, yang kita selalu tuntut akan serupa bahkan lebih.
*di penghujung semester 6, aku benci mengapa waktu begitu cepat berlalu. Kau membaik, sedang aku masih seperti - seperti ini saja :(.
 @ruang tengah asrama Khansa, dengan setumpuk tugas proyeksi dan inventori, dan besuk uas psikologi tata kota, dan ini pukul 01.50.

Kamis, 30 Mei 2013

Kepada Para Pemuda

Kepada para pemuda


Yang merindukan lahirnya kejayaan…

Kepada umat yang tengah

Kebingungan di persimpangan jalan…

Kepada pewaris peradaban yang kaya raya,

Yang telah menggoreskan catatan membanggakan

Di lembar sejarah manusia

Kepada setiap muslim

Yang yakin akan masa depan dirinya

Sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan

Di kampung akhirat

Wahai kalian yang rindu akan kemenangan agama Allah…

Wahai semua yang turun ke medan,

Demi mempersembahkan nyawa di Hadapan Tuhannya…

Bersegeralah bergabung dengan parade bisu…

Untuk bekerja di bawah panji penghulu para nabi…
(~ Hasan Al Banna )

My second Family. Garuda Merah. Muslims Youth Club

Minggu, 26 Mei 2013

Seseorang


Seseorang yang senantiasa tersenyum riang di hadapanmu
ketahuilah ia sering menyapu airmatanya tatkala sendirian

Seseorang yang senantiasa berguarau senda di hadapanmu
ketahuilah dialah seorang pemurung tatkala sendirian

Seseorang yang senantiasa menyuntik kata – kata semangat kepadamu
ketahuilah tatkala ia menyulam hatinya yang retak seribu

Seseorang yang senantiasa kuat di hadapanmu
Ketahuilah dialah yang senantiasa mengadu lemah di hadapan Tuhannya

Seseorang yang ketawanya menceriakan harimu
ketahuilah tatkala ia membalut luka di dadanya

Seseorang yang sering member hadiah kepadamu
Ketahuilah ialah insane yang tak pernah mendapatkannya

Seseorang yang bebas mengeluarkan cetusan pikirannya
ketahuilah dia seorang ‘pertapa setia’ yang tak mampu bersuara tatkala sendirian
-KhadimulQuran-

Rabu, 01 Mei 2013

Keadilan yang Tertukar


 





Maaf Ustadz …
Tahun 2003 sempat berkirim pesan
Menanyakan hal ihwal studi di Jerman
Ustadz merespon tanpa segan
Padahal kita belum sempat kenalan
 
Maaf ustadz …
Kini engkau mendekam di jeruji
Atas tuduhan yang tak pernah terbukti
Katanya suap kebijakan dagang sapi
Hingga sangkaan money laundry
Maaf ustadz …
Karena ustadz bukan Jenderal berbintang
Harkat-martabat ustadz ditendang-tendang
Difitnah, dibully, ditangkap di tengah malam
Tak sempat pamitan apalagi jalan-jalan
Maaf ustadz
Karena ustadz bukan anak mas seperti Mas Anas
Yang tahu rahasia orang-orang berjas
Ustadz dipenjara tanpa alasan yang jelas
Entah kapan ustadz bisa menghela bebas
Maaf ustadz …
Karena ustadz bukan tim sukses seperti Mas Andi Mallarangeng
Yang tahu sumber kampanye yang amat ngejreng
Ustadz dikerangkeng laksana Gepeng
Diblow up media begitu ngejreng
Maaf ustadz …
Saya orang desa hanya bisa memanjatkan doa
Agar Allah membuka 1001 hikmah yang pasti ada
Agar ketamakan yang zhalim segera sirna
Seiring malam yang berganti warna
Doa rabithah sahut menyahut terus bergetar
Dari Meulaboh hingga negeri Gibraltar
Mengetuk ‘Arasy memohon kepada Allah Maha Ghaffar
Agar di balik tabir terbuka jalan keluar
Kami tak ridha ustadz menjadi tumbal keadilan yang ditukar

Saya tidak tahu...entah kenapa pengen nangis bawaannya kalau tahu 'kasus' ustadz Luthfi...Karena sedikit banyak...Saya pernah merasakan bagaimana sakitnya terkena Fitnah. Mungkin tidak sehebat itu perihnya kalau saya yang terfitnah. Mereka berkata tentang hal yang tidak sebenarnya tentang ayah saya di atas mimbar masjid. Semua orang saya yakin tidak akan pernah rela ayah mereka di fitnah. Saat itu, rasanya hanya ingin lari ke arah abi, memeluk abi dan menangis dalam pelukannya. Dan kini, kasus Ustadz Luthfi ini hampir mirip dengan yang pernah saya alami. Saya yakin, kalau ustadz Lutfi mempunyai anak perempuan. Ia pasti jauh lebih merasakan rasa sakit seperti yang saya rasakan. Abi, ingin rasanya menjumpal mulut mereka. Mereka hanya manusia bermulut kotor yang gila penghormatan (astagfirullah).
#maaf sedikit kasar di ending. benar - benar ndak kuat Y.Y